BMFP 3582 – Manufacturing Cost

CHAPTER -1

CHAPTER-2

CHAPTER-3

QUIZ -1 2010_2011 – jawaban

TEST-1 BMFP 3582-2010_2011 JAWABAN

DECISION MAKING

HUKUM TRUK SAMPAH

HUKUM TRUK SAMPAH

 

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara.

Kami melaju pada jalur yg benar ….ketika tiba-tiba sebuah mobil ‘lusuh’ melompat keluar dari tempat parkir,  tepat di depan kami.

Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam, hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa centimeter dari mobil tersebut. Hampir kenaaa!!!

Pengemudi mobil ‘lusuh’ tersebut  mengeluarkan kepalanya dan memaki- maki ke arah kami.

Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut.

Saya sangat heran dgn sikapnya yang bersahabat.

Saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit !”

Namun saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut  mengenai apa yang saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”.

Ia menjelaskan bahwa sudah banyak orang seperti truk sampah sekarang ini.

Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.

Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuangnya kepada anda.

“Jangan ambil hati, tersenyum saja, Lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.”

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada  orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah, atau dalam perjalanan.

Intinya, orang yg sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan.

Maka, kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yg tidak.

Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup…. bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

“Ah…. , terimakasih Pak Supir, dengan kebijaksanaan anda. Untuk mengingatkan, bahwa hidup adalah indah dan rahmat, untuk saling mengasihi dan memaafkan”

                                                                             —- kiriman dari seorang sahabat—–

Time for a milestone
Time to begin again
Revaluate who I really am
Am I doing everything to follow your will
or just climbing aimlessly over these hills
So show me what it is you want from me
I give everything I surrender…

BMFP 4513 Production Planning and Control

ANSWER Test-2 BMFP 4513 [10-11]

ANSWER Test-1 BMFP 4513 [10-11][1]

Chap001 Strategi & Competition PPC 2009_10

Chap002 Aggregate Planning PPC 2009_10

Chap002 Aggregate Planning PPC 2009_10 -Tutorial

Chap003 Scheduling PPC 2009_10

004- Material requirement Planning PPC 2009_10 Part-2

004- Material requirement Planning PPC 2009_10

Tutorial Scheduling

Tutorial Scheduling-2

002- Aggregate Planning PPC 2009_10 Tutorial Aggregate Planning Problem

003- Scheduling PPC 2009_10 Tutorial Scheduling Problem

004- Material requirement Planning PPC 2009_10 Tutorial MRP Problem

Topics for BMFP 4513 group project

Case Study – 2

005- Enterprise Resource Management PPC 2009_10

006- Supply Chain Management PPC 2009_10

007- Lean Six Sigma PPC 2009_10

009-Management Information System PPC 2009_10

BMFP 4542 Tambahan

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/bab-10-management.ppt

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/chap008.ppt

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/chap009.ppt

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/chap011.ppt

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/chap013.ppt

http://sihombing15.files.wordpress.com/2009/10/project-mnagement-lab-sheet.doc

CASE STUDY 1_2 BMFP 4542 2009_10

BMFP 4542 – PROJECT MANAGEMENT 2009-10 (2)

CHAPTER-5 Estimating Project Times and Cost

CHAPTER-6 Developing a Project Plan

CHAPTER-7 Managing Risk

Project Management

BMFP 4542 – PROJECT MANAGEMENT 2010-11

529643

TEACHING PLAN 2010_2011

CHAPTER 1 THE MANAGERIAL PROCESS

CHAPTER 2 ORGANIZATION STRATEGY AND PROJECT SELECTION

CHAPTER 3 ORGANIZATION STRUCTURE AND CULTURE

CHAPTER 4 DEFINING PROJECT

CHAPTER 5 ESTIMATING PROJECT TIMES AND COSTS

CHAPTER (5) Additional – BASIC OF ACCOUNTING

ASSIGNMENT -1  (SUBMITTED THE REPORT in WEEK-10)

or click: ” ASSIGNMENT I 2010-11 Project Management regarding the COST

QUIZ -1 and the ANSWERS

CHAPTER 6 DEVELOPING A PROJECT PLAN

CHAPTER 7 MANAGING RISK

Chap007R Tutorial Aditional

CHAPTER 8 SCHEDULING RESOURCES AND COSTS

CHAPTER 9 REDUCING DURATION

CHAPTER 10 LEARDERSHIP

CHAPTER 11 MANAGING PROJECT TEAMS

CHAPTER 12 PROGRESS AND PERFORMANCE MEASUREMENT AND EVALUATION

Final__BMFP_4542[10-11] JAWABAN

WILL YOU RECOGNIZE SUCCESS WHEN IT COMES? AND CAN YOU HANDLE IT?

 

 

WILL YOU RECOGNIZE SUCCESS WHEN IT COMES? AND CAN YOU HANDLE IT?

 suits

 

Success sounds wonderful, but we often don’t recognize it because it can arrive as incremental steps of failure. If you don’t recognize your future success in each failure, you’ll get derailed. Take comfort in the fact that failure is often a stepping-stone to success. And when the opportunity for success comes, remember that future success will likely to be linked to incremental failure. In other words, calculate the cost for success in your life and be ready to pay.

To help you to answer those above questions, first take a mental account of your recent failures. Record them at your list. Remember, successful people aren’t afraid to fail because the road to success is paved with failure.

Second, get ready for success by always staying one step ahead of your own comfort zone. Challenge yourself every day, even in the little things. Do something different to break your routine. Run around the block. Turn off the TV (he.. he… since the Indonesian TV contents a lot of celebrities gossips, sillies soap operas/telenovelas , problems dialogues without solution, etc.) Go to work a half hour early. Skip a meal one day. Read a good book. Pray! Build something!

Success will change your life, and more important, it will change you. But it simply cannot happen unless you prepare yourself. That might mean throwing away some old habits and cleaning out some dark corners in your life. It may take some time and some of the cleaning might even be a little painful. But it’s necessary – and it’s worth it. Remember, success isn’t step cheap. It has price. And the price is you.

One final note on success: it has an interesting way of putting a megaphone to your failures. Those little mistakes you used to make that no one else noticed now seriously impact other people – friends, coworkers, business associates. Some of these relationships may never be restored. That has been the single most painful lesson that success has taught me. It’s the highest price. I have paid.

Let me quote the lyric of “Sugar Mice” song of Fish-Marillion as follows:

I was flicking through the channels on the TV on a Sunday in Milwaukee in the rain…

trying to piece together conversations,

 trying to find out where to lay the blame

But when it comes right down to it there’s no use trying to pretend…

For when it gets right down to it there’s no one here

 that’s left to blame, blame it on me, you can blame it on me..

we’re just sugar mice in the rain

 

I heard Sinatra calling me through the floor boards..

where you pay a quarter for a partnership in rhyme

to the jukebox crying in the corner while the waitress is counting out the time

 

Well the toughest thing that I ever did was talk to the kids on the phone,

when I heard them asking questions that I knew
that you were all alone,

 Can’t you understand that the government left me out of work..

I just couldn’t stand the looks on their faces saying what a jerk

 

 

How about you?

PENDIDIKAN DAN AGAMA (AGAMA PENDIDIKAN atau AGAMA UANG?)

PENDIDIKAN DAN AGAMA

(AGAMA PENDIDIKAN = AGAMA UANG?)

 

 

 

 

Seperti biasa, saya  pulang ke Bandung pada setiap akhir pekan setelah menghabiskan 5 hari bekerja di tengah- tengah sibuknya kota Jakarta. Biasanya Jumat menjelang malam, saya sudah memasuki gerbang jalan Tol Terusan Pasteur.  Kebetulan pula saat itu, saya bersama Pak Asto, tetangga akrab yang menjadi teman seperjalanan, yang  kebetulan tidak sengaja kujumpa menunggu Bus Jurusan ke Bandung di gerbang Tol Pondok Gede Bekasi, setelah aku mengambil karcis Tol. Sehingga perjalananku tidak begitu sepi seperti dulu- dulu.

 

“Lho, koq Pak Asto sedang ke Jakarta atau Bekasi…? Ada proyek, pak?” Tanyaku saat itu, setelah kuajak dia bersama- sama naik mobilku.

 

 

Saya tahu Pak Asto, sekalipun sudah dua.. tiga tahun ini pensiun sebagai pegawai rendahan dari sebuah perusahaan milik negara, namun dia tetap aktif untuk bekerja. Tentunya bekerja informal, seperti yang dia jelaskan. Karena katanya,” Dari pensiun mana cukup, Bang..”

 

Pak Asto biasa memanggilku, ‘Bang’, mungkin karena kebiasaan kalau orang Batak di Bandung selalu dipanggil dengan sebutan itu. Walaupun aku pernah mengemukakan rasa keberatanku, karena dari segi umur, aku jauh masih lebih muda. Maklumlah, perasaan rendah dirinya mungkin sudah mendarah daging. Malah sebutan untuk almarhum Bapak Ibuku juga masih disebut “Om” dan “Tante”.

 

Pak Asto mengenal keluarga kami semenjak dahulu, ketika aku masih SD di tahun 70-an. Malah beliau  tahu benar mengenai keluarga kami, karena pada saat itu di daerah kami masih agak kampung dan belum lagi banyak pendatang, sehingga orang- orangnya masih akrab dan saling mengenal akrab. Apalagi karena aku dan adik- adikku bebas bergaul dan akrab dengan anak- anak lainnya, termasuk jadi pemain bola tingkat RW di lapangan yang sekarang sudah hilang digantikan rumah- rumah mewah dari pendatang yang ada.

 

Sambil bercerita mengenai kabar keluarga dan anak- anaknya, dia juga menanyakan kabar aku dan adik- adikku sekarang, karena kebetulan hanya aku sendiri yang masih sering pulang ke Bandung untuk melihat rumah kosong orangtuaku yang kutitipkan kepada tetangga sebelah rumah untuk dijaga. Sedangkan adik- adikku yang lain, tinggal di luar pulau Jawa dan Negara.

 

“Yah..Bang. Ada lumayanlah… Buat cukup- cukupin biaya si Dedy masuk sekolah.” Kata Pak Asto pelan.

 

“Yang bungsu, yah?” kataku agak sedikit menyelidik, karena aku tak seberapa kenal. Aku hanya mengenal 3 orang anak Pak Asto yang dulu sebayaku. Si Ani, Teguh, dan si Rita.

 

“Pangais bungsu..Bang.” kata Pak Asto menjelaskan.

 

”Oohhh…Sekarang masuk ke Universitas mana?”

 

Pak Asto tersenyum sambil menjawab ,” Boro- boro Bang…. Masih kecil..Baru masuk SMA. Kapan..bulan Mei ini harus cepet daftarnya. Kalo ngak,  masuk swasta lah…”

 

”Oh yah.. ? Baguslah kalo gitu” sambutku sekenanya.

 

”Bagus gimana Abang nih. Sedang kalo masuk Negeri aja udah mahal, apalagi swasta. Mana ketulungan mahalnya. Dari mana duitnya , Bang?” kata pak Asto mencoba memprotes…

 

”Lho katanya tadi Swasta?” aku mencoba berdalih. Tapi supaya jangan semakin membuat percakapan kami menjadi tak enak, aku coba tanyakan bagaimana kabarnya anak- anak Pak Asto yang sudah menikah.  Aku tahu Pak Asto ingin mencurahkan kegudahan hatinya terhadap biaya hidup yang semakin tinggi dan sulitnya pendidikan di masa kini, seperti juga yang kudengar dari beberapa rekan kerja di kantor, yang baru mendaftar anaknya untuk masuk SD. Yang paling fantastis adalah, masuk TK di Jakarta ada dengan biaya Rp.8 juta! Aku hanya bisa geleng- geleng kepala terhadap kenyataan seperti itu.

 

Namun demikian, apapun alasannya dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi, aku pikir itulah kenyataan hidup… Sah- sah saja jika pendidikan menjadi suatu ladang bisnis, sebelum ada larangan dan aturannya.  Sekalipun tanggungjawab moral terhadap keadaan tersebut menjadi suatu pertanyaan… Tapi biarlah ahli- ahlinya yang membicarakan dan mendiskusikan penyelesaian terhadap masalah itu, termasuk di dalam hal biaya maupun kefektifannya. Silahkan anda membaca- baca di

 

http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia/

http://www.perencanakeuangan.com/files/PerkiraanBiayaPendidikan.html

http://www.moe.gov.my/bpk/sp_hsp/moral/hsp_moral_f4.pdf

http://www.gaulislam.com/pendidikan-agama-kita

http://www.mpr.go.id/pimpinan2/?p=64

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7178:merusak-pendidikan-agama-&catid=3:catatan-akhir-pekan-adian-husaini&Itemid=58

http://chaosregion.wordpress.com/2007/01/11/masalah-pendidikan-di-indonesia/

http://islamlib.com/id/artikel/pendidikan-agama-jangan-menakut-nakuti/

http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/jaman-sekarang.html

http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/pendidikan-moral-ala-jepang.html

http://www2.kompas.com/ver1/Dikbud/0707/30/202349.htm

 

 

Saya hanya tak habis pikir soal pendidikan yang dikaitkan dengan agama, namun implementasinya adalah bisnis.

 

Saya lihat sekarang ini menjamur dan semakin banyak, Sekolah Dasar Kristen….., Sekolah Menengah Atas Kristen…., Sekolah Islam……. , Sekolah Muslim….. Sekolah Budi (Budha)…dan banyak lainnya. Besar- besar dan megah. Sementara yang bersekolah di situ rata- rata mengengah ke atas, sehingga hampir setiap saat di pagi hari dan siang hari, jalan- jalan di depannya macet karena banyak kendaraan parkir untuk mengantarkan dan menjemput anak- anak yang bersekolah di situ.

 

Pernah suatu kali ketika saya menemani teman kantor untuk mendaftarkan sekolah anaknya, saya terhenyak dengan perkataan ,”Maaf, kalau bapak tidak mampu, mungkin boleh cari tempat lain yang sesuai.” Sekalipun ketika itu teman saya mengatakan bahwa dia membawa surat keterangan yang menyatakan tempatnya beribadah, namun jawabannya, ” Maaf,  kami hanya boleh mempertimbangkan setelah mendapat persetujuan dari pihak yayasan. Nanti kalau anak bapak pinter, mungkin pihak yayasan akan mendiskusikannya”

 

Saya pikir memang ini cara ’fair’ bila suatu bisnis berlaku. Sama halnya seperti terhadap bisnis, konsumen berhak memilih terhadap apa yang dia mampu. Dan produsen boleh mengharapkan terhadap pasar mana yang mereka akan raih. Sama seperti pengertian segmentasi pasar terhadap produk yang diluncurkan ke pasar. Tapi, jika dilakukan oleh sebuah institusi pedidikan dengan afliasi agama, mungkin jawaban ini terlalu ’duniawi’. Walaupun tentunya, kenapa harus berkeinginan untuk bersekolah di tempat tersebut, padahal ada tempat lainnya, sehingga boleh dijadikan alasan untuk menghindarkan diri.

 

Saya pikir, kalau pintarpun, tak usah seakan- akan mengemis seperti itu di dalam meminta keringanan biaya pendidikan, karena pasti Pemerintah berikan.

 

Kenyataannya? Wow, saya baru tahu persyaratan- persyaratannya me-’lucu’-kan setelah teman itu mengatakannya sekilas:  Meminta surat keterangan dari tempat bekerja tentang gaji dan penghasilan, surat keterangan tidak mampu dari RT, RW domisili dan kelurahan. Konyolnya, surat dari kelurahan perlu bayar pula, padahal untuk surat keterangan tidak mampu.

 

”Apa kaitannya antara permintaan keringanan atau bebas biaya pendidikan oleh sebab si anak pintar, dengan dibutuhkannya surat keterangan tidak mampu?’ tanya hati kecilku

 

Namun, saya  tidak kompeten membahasnya. Biarlah pakar- pakar pendidikan, bisnis, dan administrasi publik yang mendiskusikan dan membuat solusinya.  Termasuk juga dalam hal moral dari hasil pendidikan yang dibuat. Apalagi’ jika dikaitkan antara hasil didik dari pendidikan agama di sekolah terhadap kualitas moral siswa- siswa di kemudian hari ketika mereka menjadi anggota masyarakat dengan berbagai jenis pekerjaan yang mereka lakukan sebagai perjalanan hidup kemanusian mereka. (Silahkan lihat beberapa tulisan yang terdapat di link atas) 

 

Saya hanya melihatnya terhadap euphoria sekolah- sekolah atas nama suatu afliasi agama ’berbisnis’ sebagaimana halnya sekarang- sekarang ini, ketika banyak individu- individu semakin ’gersang’ hatinya, untuk rindunya  dicurahkan siraman- siraman pelepas dahaga kerohanian melalui janji- janji  baik dan pengharapan, bahwa Tuhan Maha Pengampun  begitu fantastis untuk membersihkan begitu saja dosa- dosa duniawi yang dibuat karena kecintaan manusia akan materialisme tanpa suatu komitmen untuk berubah, tidak melakukannya kembali.

 

Curahan rohani melalui keberadaan Tuhan menjadi sekedar pelipur lara yang setia. Eksistensinya menjadi ’glamour’, ketika prosesi- prosesi keagamaan yang dijelmakan menjadi gempita. Pengakuan terhadapNya menjadi sesuatu yang absolut terhadap perbedaan dogma, seabsolut pembenaran diri terhadap pihak lainnya yang berbeda. Terjual atas nama kerohanian dan keagamaan, bahkan untuk menghancurkan orang- orang yang berlainan kepercayaan.

 

Semua pilihan yang ada adalah menjajikan indahnya kucuran ’madu’ Tuhan. Tuhan seakan- akan boleh dibayar dengan pengakuan diri melalui seberapa besar anda tergiring untuk memasukkan dalam kantong- kantong persembahan atau kotak- kotak amal. Seberapa keras dan lantang teriakan memuji keagunganNya, bahkan ketika tangan anda menghunus senjata dan bermuka garang..atau bernyanyi memuji- muji Dia hingga ’trans’, tampak seakan- akan mabuk anggur dan mulut berbusa,  karena suatu keyakinan bahwa Dia melihat anda sebagai seorang yang beriman kepadaNya. Termasuk juga, ketika anda berprerogatif  diri untuk memasukkanNya dalam identitas  dan legalitas ’bisnis’ anda.

 

Memuji Dia untuk memuaskan diri dan hati yang telah terjepit gundah, untuk lepas dan bebas. Angkat tangan, tunjukkan betapa kuasaNya Dia lewat incin- cincin bermata berlian dan gelang- gelang emas yang anda pakai. Datanglah bersemangat dengan senyum indah, ramah dengan  pakaian- pakain mahal dan bermerk, serta mobil mewah anda untuk menunjukkan bahwa Dia Maha Kaya.

 

Menunjukkan kesungguhan penyesalan- penyesalan anda dengan linangan- linangan air mata bersama- sama, doa bersama- sama lewat podium orang ramai, televisi, radio, koran, pamflet- pamflet. Menunjukkan bahwa penyesalan anda adalah sungguh- sungguh dan mujarab untuk membujuk Dia agar memasukkan diri anda sebagai orang yang Tuhan kasihi melalui keberhasilan dan kesusksesan hidup.

 

Itulah pilihan yang tersedia. Pilihan yang dilakukan para penjual yang tersenyum ringah dengan kehadiran anda dan dengan semakin banyaknya undangan kehadiran mereka untuk berceramah dan berkhotbah. 

 

”Penjual firman!”

 

Penjual itu tidak menawarkannya melalui penyesalan mendalam dengan menggiring anda merenung diri di dalam bilik pribadi anda masing- masing, untuk sungguh- sungguh bertobat dan berdoa agar terlepas dari belenggu materialisme yang selalu menyeret- nyeret langkah hidup anda, atau melalui kerendahan hati terhadap sesama. Tidak pula atas ajaranNya agar tangan kiri yang tidak perlu tahu apa kebaikan yang dilakukan tangan kanan.   Agar tangan, mata, mulut, dan badan anda tidak tercemari keinginan- keinginan haram dan kedagingan anda. Agar hanya yang halal saja yang dapat ada buat di dalam hidup dan tindakan anda. Agar anda semakin dekat denganNya melalui kebersamaan hati anda dengan orang- orang lain yang berbeda, dan menjadi berkat dengan keberadaan anda di tengah- tengah orang lain. Agar anda bukan menjadi tembok penghalang kerohanian orang lain untuk bersungguh- sungguh terhadap Tuhan. Agar anda tidak menjadi bibit dosa terhadap orang lain.

 

Penjual itu hanya tahu, bahwa anda juga saya dan dia adalah sama- sama manusia pendosa terhadap Tuhan. Tapi dia tahu, bahwa  anda menjadi lebih pendosa kepada Tuhan, yang untuk itu hak kepantasan penghapusan beban dosa anda secara psikologi adalah terhadap apa yang anda lakukan  untuk Tuhan melalui dia, pembawa penghapus dahaga rohani anda.

 

Padahal yang  memiliki hak absolut itu adalah pemilik Surga,  Tuhan si Empunya yang berhak untuk memasukkan anda ke pintu itu.

 

Bagai penjual obat- obat mujarab pasar malam, dia menjualnya agar diri anda terpanggil untuk berita- berita sukacita, pengampunan. Berita- berita yang menjadi penyejuk hati  yang bergelora dan gundah karena kekhilafan- kekhilafan kemanusian anda. Berita- berita yang sebenarnya anda dapat gali sendiri, namun anda mengabaikannya. Waktu- waktu anda tidak mau menyempatkan diri untuk lebih dekat dengan Dia. Dengan berbagai alasan. Sehingga anda hanya menglogikakan, cukuplah dengan hanya mendegar berita- berita tersebut anda pantas menjadi manusia yang beriman, dan melalui apa- apa kebaikan tangan kanan anda sebagai tobat, serta pujian- pujian terhadap keangungaNya sebagai manusia yang takwa. 

 

Padahal ketika mulut memuji Dia, maka hati, segenap jiwa, dan seluruh ragapun seharusnya memuji Dia yang sesungguh- sungguhnya. Bukan memuji Dia, ketika tangan sadar dan sengaja untuk bersimbah haram, serta pikiran dan hati bersiasat dengan keiinginan daging, yang berarti adalah menghina Dia. Begitu juga ketika mengucap syukur, bukan menjadi heboh dengan kesuksesan dan kekayaan yang perlu dipamerkan, karena ucapan itu menjadi keangkuhan dan kesombongan.

 

Tuhan adalah Dia yang tidak mengek- rengek membutuhkan kebaikan dan iman anda untuk membuat anda pantas masuk dalam pintuNya. Diapun tidak merasa sepi, jika anda tidak masuk dalam pestaNya. JamuanNya tetap meriah dan menyenangkan. UndanganNya untuk semua, namun pintuNya hanya terbatas kepada yang menyambut undanganNya dengan sungguh- sungguh.

 

Bahkan ketika dikatakan, ”Banyak yang merasa terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih”, ternyata ini juga dilakukan oleh sekolah- sekolah dengan afliasi agama (untuk memasukkan nama agama) atas dasar ’bisnis’. Bukan seperti sesungguhnya, seperti apa yang Tuhan maksudkan kepada kita sebagai manusia.

 

Untuk yang demikian, mungkin yang pantas disebutkan adalah “Agama Uang”

  

JAKARTA, HABITATKU YANG HILANG

 

 

JAKARTA, HABITATKU YANG HILANG (Dalam Lagu)

35

 

 

Ketika tahun 1996, untuk pertama kalinya aku pulang dan bekerja di Indonesia,  tepatnya di Jakarta, hatiku berdegub gembira. Ada suatu perasaan rindu yang terpuaskan. Suasana yang membuatku memahami memori- memori pikiran dengan kenangan waktu sekolah dahulu .Kawasan Blok-M.

 

Ernest, temanku satu ‘kost’-an sempat tak sadar berteriak- teriak saat kami mendarat di Cengkareng pada saat itu, malam sudah gelap tetapi sinar- sinar lampu kota Jakarta tetap meriah.

 

JakartaJakarta , coy!” katanya sambil menengadahkan tangan seperi perilaku artis- artis film Bollywood. Agak keras, memancing senyum heran pramugari dan orang- orang berambut warna pirang di sebelah kami. Aku pikir dia sudah kambuh!.

 

Aku tidak dapat pungkiri, kerinduan hati pun melonjak- lonjak gembira. Hingga, dalam  satu dua hari, Ernest mengajakku menghabiskan waktu merelungi kerinduan- kerinduan kami dengan  Mayasari P-6 hijau kusam yang menyusuri Grogol hingga Cawang. Gilanya, kami sengaja naik si hijau sangar yang sudah penyot dan penuh sesak itu di jam 8 pagi lebih sedikit,  untuk menikmati sesaknya penumpang dan ’harum’nya mereka- mereka ’Jakartaners’ yang liget- liget dan lasak- lasak. Pejuang- pejuang tangguh!

 

Berpetualang yang mengasyikkan. Menyusuri relung- relung cerita kehidupan dan nafas- nafas imajinasi keindahan. Siang, dengan angkutan umum: metromini, kopaja, dan mikrolet, bis kota. Malam, bertrek- trek-an dengan mobil tua lama peninggalan ‘opa’-nya dahulu di daerah Depok. Menelusuri riak- riak kehidupan Jakarta yang telah lama kami tinggalkan, Bakso Lapangan Tembak, Nasi Goreng Blok S, Sampai Gultik-nya Barito-Mahakam (Gulai Tikus..eh, Gulai tikungan, maksudnya) dan sudah tentu gemulai- gemulainya ’malam-genic’ artis- artis dan ratu- ratu kecantikan Taman Lawang, serta nyaringnya ’keprokan-keprokan’ tangan para ’manajer- manajer personil dan promotor’ juwita- juwita dan gadis- gadis malam  di jalan  Wijaya dan Melawai.

 

”Burespang- burespang, Frans!” Seru Ernest bersemangat, menyadarkan pandanganku. Sementara mataku berasyik- asyik melihat seliweran- seliweran suasana malam yang merona- rona dan gemerlap.  Aku teringat istilah tersebut waktu nakal- nakalnya kami di SMA dahulu: berburu Burtok, Burespang, dan se-species dengan itu. Rumahku yang tak jauh dari sekolah, di jalan Sriwijaya III saat itu sering jadi ’markas’ kawan- kawan di akhir minggu untuk keluyuran malam.

 

Ternyata dunia ini kecil. Setelah lama aku berpisah dan putus ’kontak’ teman- teman SMA karena aku sekolah dan kuliah di Bandung dan rumah pindah ke Karawaci, seakan- akan sama dengan jauh pisahnya dan berpindahnya keakraban kami dahulu terkubur bersama kenangan- kenangannya. Eh…. ternyata, memang dunia ini kecil. Waktu melanjutkan studi kembali, aku ketemu Ernest di Twente tempatku menghabiskan studiku selama 2 tahun. Padahal aku tahu dia kuliah di Amhrest, Massachuset sejak lulus SMA. Aku tidak tahu, apa dia lulus atau ‘collapse‘. Aku tidak mau menyerangnya dengan pertanyaan untuk masalah pribadi seperti itu. Konyolnya, dia waktu itu katanya mau sambung kuliah lagi, tapi setelah 6 bulan dia lebih aktif sama keluyuran-nya, tidak jelas. Itulah mengapa kemudian kami sama- sama berkelakar dan berikrar untuk kembali ke Indonesia, karena sudah agak bosan tinggal dengan suasana yang serba tertib. Padahal aku baru saja bekerja 3 bulan saat itu dengan level yang cukup baik, karena ijazah pendidikan lanjut. Dia mengajakku balik tanpa khawatir dengan pekerjaan, seperti juga janjinya dengan menawarkan untuk sama- sama bekerja di tempat  yang dia bisa suka- suka untuk bekerja di pabrik milik orangtuanya…

 

Bareng kerja samah guah dah…!  Pan… keahlian loh, bisa dipake tuh ama Bokap guah. Pasti dah seneng nrima loh.” kata Ernest saat dengan menganggap mudah. ”Kalo perlu Adek guah si Mira , guah kudeta ajah cowoknya, biar sama loh dah satu paket..”

 

 

”Gelo siah!” hardik aku dengan ceplas- ceplos pelan. (maksudnya: Gila lu!”)

 

Aku tahu Ernest mungkin menggodaku. Karena harus kuakui, ketika kami sama- sama di SMA kelas 2 dulu (sebelum bokap mengungsikan aku untuk SMA di Bandung karena kawasan Blok M sering jadi ‘gelanggang tinju dan silat’) memang sudah tertarik dengan adiknya (Miranda sering dipanggil Mira) yang baru  kelas 3 SMP. ”Nest.. adek loh buat guah, yah?”

 

 

Tapi aku sedikit saja menunjukkan ke-antusias-anku. Aku tidak mau begitu mudah saja menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan bapaknya. Apalagi tawaran konyolnya. Karena aku tahu dia suka menggampang sesuatu dan berkurang- kurang ajar dengan tabiatnya yang lepas dan terbuka  sebagai sahabat karib terhadapku. Ini karena akupun sudah mendapatkan tawaran dari beberapa perusahaan di bilangan Sudirman dan Kuningan Jakarta pada bulan Juni berikutnya. Meskipun kesempatan itu didapatkan dari ’koneksi’-nya orangtuaku.Sementara, karena aku belum dapatkan tempat tinggal di Jakarta, maka aku putuskan untuk tetap tinggal di Karawaci. Sebab agak cukup mudah bagiku untuk pulang dan pergi  kerja, karena di perumahan aku tinggal tersedia bus akses ke dekat kawasan tempat  aku memilih tawaran kerja di  arah Kuningan. Dari situ, samping Balai Kartni, kemudian nyambung pakai Kopaja 66 ke gedung dekat STIE Perbanas, depan Kedubes Australia.

 

Namun demikian,  beberapa bulan  bertahan, aku sudah merasa bosan dengan kerutinan itu. Apalagi jika sesekali berangkat bekerja harus kubawa mobil sendiri. Macetnya Ajubilah. Apalagi 3 in 1 nya. Sehingga aku harus memutar di arah perempatan Pancoran atau Tebet dan Dr. Saharjo, baru kemudian berbalik arah ke Kuningan. 

 

Aku berpikir suasana Jakarta, tidak cocok buat aku hidup. ”Kurang tidur!” Sekalipun…. cukup indah- indah ’bunga’-nya dan menyelerakan. Dan banyak pula tempat- tempat tidur bermalam atau siang yang membuat urat- urat syaraf tegang menjadi kendur kenbali. ”Sewa jam- jam..an juga bisa kok, mas,” tawar seorang perlente mengundangku untuk mencoba. ”Bule ada nih..,” tawarnya dengan suara agak sedikit meninggi, ketika aku berusaha melepaskan diri dari komunikasi percakapan yang meransang keiingin-tahuan naluriku.

 

Jakarta memang gemerlap. Gemerlap dengan desah- desah rayuannya. Sehingga akupun kemudian balik lagi ke Jakarta pada tahun 2000, setelah 3 tahun 8 bulan bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di New Jersey. Namun pada saat itu, aku tidak jumpa lagi Ernest temanku dahulu. Kudengar dia sudah kawin dan tinggal di BSD, maksudnya Bekasi Sonoan Dikit…..Mungkin pula dia sudah habis dimakan ’belatung’ di kapling  2 meter persegi ”Berkubur dengan Senang & Damai”, karena kecintaannya pada serbuk- serbuk putih penggugah imajinasi. Aku tidak tahu!

 

Jakarta memang memudahkan ditengah kesibukannya. Menggembirakan ditengah kehiruk-pikukannya. Lihatlah kawasan Sudirman di tengah siang hari. SUka mondar-manDIR MANusia berdasi, perempuan- perempuan ber-blazer dan rok span hitam, formal dengan pakaian kerjanya menunjukkan kawasan kantor kelas menengah atas dengan penjaja- penjaja makanan bertirai-tenda ramai dan hangat menyambut kehadiran mereka. Apalagi petang hari, macetnya mengundang- ngundang mata ke tempat ’pedestrian’ mencari seluk- beluk betis- betis ditopang kasut bertumit tinggi menggugah hati.  Kawasan tempat orang- orang yang bermartabat (bermacam- macam tabiat) dan setia dalam asmara (maksudnya, setiap tingkat ada).

 

”Wuaduh…kayaknya asyik juga nih kerja di sini.” gumamku dalam hati, merindukan. Tapi secepat itu, aku menyadari bahwa aku akan cepat bosan dengan hiruk pikuk seperti itu. Nafasku  akan ’tersengal- sengal’ tak cukup mampu menyaingi lihai- lihainya mereka. Sekalipun tanteku (adik bapakku) menawarkan untuk ditinggal di rumahnya, kawasan Slipi Petamburan.. Sehingga dengan demikian aku bisa dekat dan cepat jika pergi ke kantor di daerah tersebut…atau bisa saja dengan mudah naik ’ojeg’ bila malas bawa kendaraan sendiri atau malas dengan jebakan pengawas- pengawas 3 in 1 yang senang menyamar di antara dedaunan, padahal warnanya bukan hijau. Dasar wereng coklat!

 

Jakarta serba ada. Itu yang aku suka. Kawasan Glodok dan Pasar Pagi Mangga Dua menyediakan berbagai barang yang kucari. Apa saja software dan CD film, musikpun ada. Benar- benar surga untuk bermanja- manja. Apalagi kawasan Tamansari, yang ’basah’-pun ada…….

 

Aku belum pernah merasakan kota selengkap ini. Sekalipun Hongkong dengan Kowloon, Lan Kwai Fong, dan kawasan baru Harbour City-nya, apalagi Singapura.  Mie ayam, coto konro, soto gebrak, pecel lele, gado- gado, bakso Pa Kumis, sampai barang- barang pakaian yang beragam- ragam di pasar Tanah Abang dan Cipulir. Yang paling sensasional, koran- korannya banjir dengan informasi. Mau tentang olahraga, tentang wanita, umum dan nasional, yang agak ‘mesum’ dikit, anak- anak, remaja, gosip- gosip, otomotif, dan…malah sampai yang kalau bisa diperas keluar darahpun ada  he he he….(maksudnya koran dengan berita- berita kriminal). Apalagi dengan rokok- rokoknya, sekalipun sudah diperlakukan Perda untuk larangan tersebut. Tapi tetaplah saja….  how law can you go, please : ”Paradiso for Smoker!” (maaf ya,.”how low can you go”). Ada tempat- tempat museum, mesum,panti asuhan, panti haus-ah,panti jompo, panti ‘jumpa’, panti- panti pijit,jepit, apartemen, apart of man,rumah susun, rumah ‘susu’, Plaza, Please ‘aja’. Semua serba ada seperti super market! Jakarta banjir segalanya.

 

Kalaupun menunggu angkutan, tinggal berdiri saja di pinggir jalan, si angkutan langsung menjemput. Konyolnya, baru saja menutup pintu gerbang rumah, tawaran angkutan langsung menjemput,”Ojeg.., Om?”

 

Jakarta tempatnya duit. Segalanya bernilai duit. Mau belok, duit. Berhenti, duit. Cuma mau ’kentut’ saja yang tidak pakai bayar duit. Semua serba cepat, instant, ’Nirvana of Everythings’ ….sebagai Kota yang bersimbol PaluGada (Apa Lu Mao, Gua Ada).  Aku pernah membaca artikel ”Enaknya Jadi Orang  Indonesia” memang betul juga sepenuh- penuhnya, terutama orang Jakarta dan yang punya duit tentunya.

 

Tapi demikian, aku belum cocok berlama- lama dengan keenakan seperti itu.   Aku masih lagi harus kembali ke peradabanku, ke tempat suaka pembuanganku. Sekalipun habitatku berasal dari tempat yang ’mengasyik’ tersebut. Itulah, makanya aku harus tetap kembali, walaupun untuk menikmatinya beberapa saat sampai kerinduan kenangan itu penuh, dan muncul bersemi kembali untuk menyenangkan diri dengan bunga- bunga kenangan masa lalu dan gemerlapnya kesesakan, kehiruk-pikukan, perjuangan- perjuangan hidup dan kompetisi yang ranum dan menggelorakan hati.

 

”Frans, masih idup loh… Cuti akhir taon ini…, loh balik Jakarta, ngak?” Aku terhenyak., kudengar suara Ernest dengan gamblang setelah kuangkat telepon malam itu. Jam 2 pagi. Aku terkesima, ternyata dia masih hidup dan bernafas. Hidup dengan kenyamanannya yang berkilat- kilat dan menggila- gila , dan bernafas dengan keasyikannya.

 

Tambahnya kemudian, ”Heh kampret.. Adek guah mo kawinan bulan Desember. Biarin ajah? ….ato guah minta dia gagalin ajah supaya kawin sama loh?” 

 

Jakarta…oh…Jakarta.

 

“Kronis…” 

 *****

 

* Rinduku (Adinda) -Micko: “Selamat Jalan … Sekian lama kautanggung sakitmu. Pulanglah dengan damai ketanganNya. Warna musik Indonesia sudah ‘mengerti’ seperti yang kau rintis dahulu.” Genesis-an beak!

** Gadis Malam - Danny: “Jahanamnya serbuk itu, selalu mengeret- geret langkahmu. Sudahlah!”

*** Juwita – Jovie : “Sok weh atuh SMA 5 Bandung tea…..BTW, kunaon Kahitna leungit euy..Si Carlo kumaha ayeuna yeuh..Ari eta malam- genic teh meunang ngarang keur di Taman Maluku baheula , kitu? Kumaha angkatan 87 teh ayeuna eui?”

 

P.S: Hidup Bandung Bergoyang! Hade..lah… he he

 

GENDER, POLITISASINYA….. JUGA TAK SEJELAS NYATANYA

GENDER, POLITISASINYA…… JUGA TAK SEJELAS NYATANYA

 

per-copy

Oleh: Haeryip Sihombing

 

Pada tahun 1967, 2 orang futurist terhormat, Herman Kahn dan Anthony Wiener, menerbitkan sebuah buku berjudul The Year 2000. Ini merupakan sebuah buku yang menarik. Di dalamnya, dicontohkan beberapa perkiraan mengenai kemunculan Negara Jepang sebagai sebagai kekuatan utama ekonomi dunia, kebangkitan kembali agama- agama, dan pertumbuhan sebuah industri olahraga. Namun, tidak disebutkan tentang apa- apa saja yang berkenaan dengan energi, polusi, lingkungan, ekologi, hak- hak wanita, serta semua isu- isu yang sekarang ini timbul dan menjadi bagian tertinggi, seperti apa yang tampak dalam pemberitaan publik pada tahun- tahun belakangan ini. Padahal kenyataan tersebut boleh terlihat jelas, namun demikian pemahaman pengamat- pengamat yang telah mengemukakannya adalah menjadi terabaikan.

 

6591_203923Saya teringat satu hal mengenai ketakjelasan nyata yang secara dramatis melalui  sejarah pada tahun 1966, di mana beberapa tahun sebelumnya, suatu pergerakan perempuan  adalah jelas- jelas muncul pada sebuah konferensi yang dihadiri oleh sebanyak 2000 wanita dalam pertemuan di New York dengan tema “Qua Vadis Today’s Woman?”. Saya mencatat bahwa  kesemua pembicara yang berbaris di depan adalah pria, yakni antropolog Ashley Montagu, ekonom Eli Ginsberg,  editor jurnalis John Mack Canter, dan psycholog-penulis R. Farson. Saya tidak dapat membayangkan,  bagaimana bila situasinya dibalik, yakni 2000 laki- laki berkumpul dalam tema “Quo Vadis Today’s Man?” untuk mendengarkan 3 orang wanita berpidato? Tidak peduli seberapa terhormat pangkat dan kedudukan mereka, untuk mengatakan dalam pidatonya  ke mana mereka harus bergerak. Dari contoh langsung ini, sikap- sikap yang berlaku pada wanita membuka mata saya. Apa yang saya telah terbutakan pada momen tersebut, jelas- jelas membuat saya ‘trenyuh’!

 

Seperti halnya ketika orang- orang disekitar saya membicarakan tentang wanita. Mungkin, saya pikir adalah sesuatu yang lumrah saja, jika laki- laki membicarakan wanita. “Paling- paling tentang kecantikannya atau bagaimana pengalaman- pengalaman mereka tentang wanita ….,” kata saya dalam hati. Kalaupun, mungkin sampai pada pembicaraan yang hanya pantas dilakukan oleh orang dewasa, saya pikir itu terserah siapa yang mau terlibat untuk membicarakannya. Namun kegelian hati saya sedikit tercubit, ketika wanita dilukiskan sebagai ‘seonggok daging’ yang gemulai untuk dibicarakan secara umum. Sekalipun para penjual- penjual produk seringkali memainkannya sebagai kosumsi umum melalui gambar- gambar dan iklan- iklan yang menggugah naluri daripada akal. Anda boleh memahaminya, mengapa iklan- iklan shampoo didominasi wanita, bukan?

 

p-1Anda sebagai laki- laki mungkin boleh saja tidak tergugat secara logika dengan melihat wanita ditampilkan terbuka terhadap daerah- daerah privasinya. Karena area untuk itu, naluri anda yang bekerja. Namun ketika logika anda bekerja untuk tujuan anda, dan anda mengenakan penilaian terhadap latar belakang si empunya ‘daging’, maka hasilnya boleh menjadi lain. Karena naluri anda tidak berkerja, sehingga luapannya menjadi meng-linear-kan naluri anda menjadi logika dan bersiasat. Misalnya dalam hal ini adalah melalui politik.  Itulah makanya seringkali politisasi tubuh menjadi bagian dari permainan politik seperti sudah banyak dikabarkan dalam kasus- kasus sebelumnya. Sebutlah Bill Clinton dan ‘ke-heboh-an’-nya, misalnya. (maaf, saya mengambil gambar ‘lucu’ ini dari internet)

 

wongHeh! apa pula ni? Saya membaca The Star sebagai berikut:

“ Selangor executive council member and Bukit Lanjan assemblyman Elizabeth Wong, whose nude photographs are being circulated, has tendered her resignation from both posts, but party leaders have yet to accept it.”

 

Saya berpikir bahwa cukuplah seorang anggota parlemen (Italy) yang bernama La Cicciolina saja yang berbangga dengan kesembronoannya. “Tapi sudah…lah, namanya juga politik,” gumam saya dalam hati. Karena saya tahu, urusan tubuh adalah milik pribadi seseorang dan saya pun bukan seorang politikus. Saya bukan ahlinya di dalam mem-politik-an ‘polite‘-nya urusan privasi ini dan perkeliruannya. Saya hanya membayangkan, apakah jika siempunya cerita tersebut seorang laki- laki, apakah juga Heboh? Dan apakah juga turut melinangkan air mata? Sayapun juga tidak tahu! Apakah linangan air mata tersebut adalah karena kesedihan atas luka hati terhadap harga diri, atau karena hilangnya jabatan. Saya juga tidak tahu! Saya tidak mau berandai- andai. Itu bukan urusan saya. Yang saya tahu, kalau  La Cicciolina atau Ilona Staller malah berbangga….tuh….

 

Namun demikian, ketika mata saya secara tak sengaja dalam membuka layar internet untuk menulis email (free/gratisan), di atas kolom situs tersebut saya membaca judul berita sebagai berikut:

 

“Female teacher jailed 10 months for teen sex”

 

“Hah?” Pikir saya terheran heran. Mungkin keheranan ini juga akan terjadi pada anda, karena apa yang telah menjadi kemakluman dalam benak kita adalah berdasarkan berita- berita yang selalu menempa dan membentuk kita sebagai manusia dengan pola pikirnya. Mungkin pula, sekalipun anda tidak begitu heran mendengar hubungan ”incest’, namun pikiran anda akan meletakkan penilaian anda kepada orang- orang yang terlibat di dalam tindakan keliru tersebut sebagai tindakan jahanam, bukan? Apalagi jika si pelaku adalah dengan statusnya sebagai seorang laki- laki dewasa terhadap anak- anak perempuan kecil. Saya yakin anda menganggapnya sebagai seorang ‘bedebah‘ yang perlu dihukum keras.

 

Saya coba mengutip berita tersebut : ”The friendship between the teacher and boy began when he was a 14—year—old Grade Six pupil ……They later had sex, when he was 15, after the boy said he loved the woman who had declared him her godson.. By then, the boy had moved on to a secondary school. They had sex five more times. “

 

Saya menyadari, walaupun pada mulanya menjadi bingung, mengapa si guru perempuan dipenjara? “Akh, sudahlah….itu hanya berita.” Saya coba mengambil sikap seperti itu.

 

Tahun 2008, saya pernah membaca suatu bloger mengenai hubungan pengajar (dalam hal ini dosen) dengan mahasiswinya, judulnya :

 

“Power” dan Seks” di Dunia Akademis

 

Wah, didalamnya diulas dengan penegasan yang cukup mendalam mengenai hubungan personal yang dicampuradukkan dengan hubungan profesional yang melibatkan relasi seksual antara dosen dan mahasiswa sebagai persoalan moral yang problematik. Tapi maaf, kebetulan kasusnya adalah karena dosen atau pengajar tersebut adalah laki- laki dan mahasiswanya adalah mahasiswi, sehingga tampaknya Relasi Seksual Dosen-Mahasiswa = Relasi Kekuasaan berikut pula pengandaiannya adalah meletakkan si mahasiswi sebagai obyek.

 

Saya coba lagi untuk memaklumi pernyataan tersebut. Namanya juga pendapat, tentu sah- sah saja, sekalipun dalam hal ini saya lebih melihatnya terhadap warna perspektif menurut siapa identitasnya yang berpendapat. Demikian pula halnya, seperti saya ketika di dalam mengartikan apa yang diperjuangkan melalui emansipasi wanita oleh R.A. Kartini. Di sini saya bukan berarti setuju atau tidak setuju dengan pendapat- pendapat tersebut.  Namun saya melihatnya melalui suatu keterkaitan dan kejelasan.

 

kartini2R.A Kartini menulis:

Bagi saja ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Suratnya kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)

 

…….Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

 

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu … Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan

 

     Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

 

raden_adjeng_kartiniSaya coba hubungkan rona ekspresi tersebut dengan identitasnya  sebagai berikut:

Kartini was born into an aristocratic Javanese family in a time when Java was still part of the Dutch colony, the Dutch East Indies…. her mother was Raden Mas’ first wife, but not the most important one. At this time, polygamy was a common practice among the nobility. At that time, colonial regulations specified that a Regency Chief must marry a member of the nobility and because MA Ngasirah was not of sufficiently high nobility, her father married a second time to Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), a direct descendant of the Raja of Madura.Kartini’s parents arranged her marriage to Raden Adipati Joyodiningrat, the Regency Chief of Rembang, who already had three wives. She was married on the 12 November 1903.

 

Kartini’s family allowed her to attend school until she was 12 years old.

 

Kartini also expressed criticisms about religion. She questioned why the Quran must be memorised and recited without an obligation to actually understand it. She also expressed the view that the world would be more peaceful if there was no religion to provide reasons for disagreements, discord and offence. She wrote “Religion must guard us against committing sins, but more often, sins are committed in the name of religion”

 

Kartini also raised questions with the way in which religion provided a justification for men to pursue polygamy. For Kartini, the suffering of Javanese women reached a pinnacle when the world was reduced to the walls of their houses and they were prepared for a polygamous marriage.

 

As the wedding approached, Kartini’s attitude towards Javanese traditional customs began to change. She became more tolerant.

 

Penemuan suatu kejelasan adalah selalu sebuah tantangan, bukan? Di sini anda dapat berputar- putar menyimpulkan mengapa seorang Kartini menjadi Kartini dengan emansipasinya.

 

250px-emmeline_pankhurst2Sama seperti jika kita lihat dari pejuang hak- hak wanita,  yaitu Emmeline Pankhurst.

Born and raised in Manchester by politically active parents, Pankhurst was introduced at a young age to the women’s suffrage movement. Although her parents encouraged her to prepare herself for life as a wife and mother, she attended the École Normale de Neuilly in Paris. In 1878 she married Richard Pankhurst, a barrister known for supporting women’s right to vote; they had five children over the next ten years. He also supported her activities outside the home, and she quickly became involved with the Women’s Franchise League, which advocated suffrage for women

 

 

Saya mencoba paralellisme pandangan saya seperti terhadap para analis yang mempelajari strategi-strategi penghindaran terhadap penggunaan militer selama perang dingin melalui pembangunan sebuah skenario yang didasarkan pada harapan- harapan, yakni bahwa musuh akan tanggap secara rasional.Di sini apa yang telah nyata adalah, bahwa sekalipun sistem senjata ringan menjadi sebuah kekuatan yang berdayaguna untuk satu pihak, namun jika pihak lainnya berpikiran hal tersebut, maka akan sama- sama digunakan juga. Di mana melalui ukuran gudang persenjataan yang lebih besar, maka upayanya akan lebih kepada analisa rasional untuk mengaturnya dalam penggunaaan, dan oleh karenanya maka kekuatan yang dimilikinya akan berkurang.

 

Makanya, ketika saya membaca judul suatu artikel :

 

“Girls are becoming as good as boys at mathematics, and are still better”

 

 

saya hanya memahaminya sekedar suatu berita, karena di dalamnya saya tidak mau beranjak untuk berargumentasi melalui bukti- bukti220x114_00mistresscontest yang ada, dari selama ini berapakah banyaknya perempuan dibandingkan laki- laki dalam  ramainya menjadi ahli- ahli matematika atau pemenang nobel dalam bidang matematika, misalnya. Apalagi jika kemudian disangkut-pautkan melalui ide mengapa krisis ekonomi dan keuangan selama ini adalah berdasarkan peran hormon testoseron seperti yang saya kutip dari tulisan di Harvard Business School dalam Is It Crisis Due to Testosterone?

 

Ini karena, kejelasan itu tidak tampak seperti apa adanya……

 

Bukankah konyol, jika kemudian saya mengusulkan dalam konsultasi  bisnis terhadap salah satu pengusaha ‘broadcasting‘, ”Baiklah… sekarang demi meraih segmen pasar sebagai keuntungan, maka kita sebaiknya membuka usaha melalui  pendirian ”Radio Male”…sebagai peluang dan alternatif terhadap ”Radio Female” yang telah ada?” Atau bertanya- tanya, jika film dengan title ”Berbagi Suami” adalah ada, kenapa tidak dengan ”Berbagi Istri”?   

 

Seperti saya pun yakin, anda mungkin akan terheran- heran, bukan..? Jikalau ada film ”SUNDEL BOLONG” atau ”KUNTILANAK” dengan peran seorang laki- laki……sebagai tokoh hantunya. Karena kita tahu….., bahwa kata “Sundel” dan “Kunti” adalah hanya cocok untuk dipasangkan dengan mahluk Perempuan (= Perempuan Sundel dan Dewi Kunti)…..

 

Jawabannya sebenarnya………..”Akhirnya ke..laut.” (seperti lagunya Ikke Nurjanah dalam menyanyikan Bengawan Solo yang terpotong di dalam film Berbagi Suami.” Mungkin maksudnya….ke laut…aje?!