PENDIDIKAN DAN AGAMA
(AGAMA PENDIDIKAN = AGAMA UANG?)

Seperti biasa, saya pulang ke Bandung pada setiap akhir pekan setelah menghabiskan 5 hari bekerja di tengah- tengah sibuknya kota Jakarta. Biasanya Jumat menjelang malam, saya sudah memasuki gerbang jalan Tol Terusan Pasteur. Kebetulan pula saat itu, saya bersama Pak Asto, tetangga akrab yang menjadi teman seperjalanan, yang kebetulan tidak sengaja kujumpa menunggu Bus Jurusan ke Bandung di gerbang Tol Pondok Gede Bekasi, setelah aku mengambil karcis Tol. Sehingga perjalananku tidak begitu sepi seperti dulu- dulu.
“Lho, koq Pak Asto sedang ke Jakarta atau Bekasi…? Ada proyek, pak?” Tanyaku saat itu, setelah kuajak dia bersama- sama naik mobilku.
Saya tahu Pak Asto, sekalipun sudah dua.. tiga tahun ini pensiun sebagai pegawai rendahan dari sebuah perusahaan milik negara, namun dia tetap aktif untuk bekerja. Tentunya bekerja informal, seperti yang dia jelaskan. Karena katanya,” Dari pensiun mana cukup, Bang..”
Pak Asto biasa memanggilku, ‘Bang’, mungkin karena kebiasaan kalau orang Batak di Bandung selalu dipanggil dengan sebutan itu. Walaupun aku pernah mengemukakan rasa keberatanku, karena dari segi umur, aku jauh masih lebih muda. Maklumlah, perasaan rendah dirinya mungkin sudah mendarah daging. Malah sebutan untuk almarhum Bapak Ibuku juga masih disebut “Om” dan “Tante”.
Pak Asto mengenal keluarga kami semenjak dahulu, ketika aku masih SD di tahun 70-an. Malah beliau tahu benar mengenai keluarga kami, karena pada saat itu di daerah kami masih agak kampung dan belum lagi banyak pendatang, sehingga orang- orangnya masih akrab dan saling mengenal akrab. Apalagi karena aku dan adik- adikku bebas bergaul dan akrab dengan anak- anak lainnya, termasuk jadi pemain bola tingkat RW di lapangan yang sekarang sudah hilang digantikan rumah- rumah mewah dari pendatang yang ada.
Sambil bercerita mengenai kabar keluarga dan anak- anaknya, dia juga menanyakan kabar aku dan adik- adikku sekarang, karena kebetulan hanya aku sendiri yang masih sering pulang ke Bandung untuk melihat rumah kosong orangtuaku yang kutitipkan kepada tetangga sebelah rumah untuk dijaga. Sedangkan adik- adikku yang lain, tinggal di luar pulau Jawa dan Negara.
“Yah..Bang. Ada lumayanlah… Buat cukup- cukupin biaya si Dedy masuk sekolah.” Kata Pak Asto pelan.
“Yang bungsu, yah?” kataku agak sedikit menyelidik, karena aku tak seberapa kenal. Aku hanya mengenal 3 orang anak Pak Asto yang dulu sebayaku. Si Ani, Teguh, dan si Rita.
“Pangais bungsu..Bang.” kata Pak Asto menjelaskan.
”Oohhh…Sekarang masuk ke Universitas mana?”
Pak Asto tersenyum sambil menjawab ,” Boro- boro Bang…. Masih kecil..Baru masuk SMA. Kapan..bulan Mei ini harus cepet daftarnya. Kalo ngak, masuk swasta lah…”
”Oh yah.. ? Baguslah kalo gitu” sambutku sekenanya.
”Bagus gimana Abang nih. Sedang kalo masuk Negeri aja udah mahal, apalagi swasta. Mana ketulungan mahalnya. Dari mana duitnya , Bang?” kata pak Asto mencoba memprotes…
”Lho katanya tadi Swasta?” aku mencoba berdalih. Tapi supaya jangan semakin membuat percakapan kami menjadi tak enak, aku coba tanyakan bagaimana kabarnya anak- anak Pak Asto yang sudah menikah. Aku tahu Pak Asto ingin mencurahkan kegudahan hatinya terhadap biaya hidup yang semakin tinggi dan sulitnya pendidikan di masa kini, seperti juga yang kudengar dari beberapa rekan kerja di kantor, yang baru mendaftar anaknya untuk masuk SD. Yang paling fantastis adalah, masuk TK di Jakarta ada dengan biaya Rp.8 juta! Aku hanya bisa geleng- geleng kepala terhadap kenyataan seperti itu.
Namun demikian, apapun alasannya dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi, aku pikir itulah kenyataan hidup… Sah- sah saja jika pendidikan menjadi suatu ladang bisnis, sebelum ada larangan dan aturannya. Sekalipun tanggungjawab moral terhadap keadaan tersebut menjadi suatu pertanyaan… Tapi biarlah ahli- ahlinya yang membicarakan dan mendiskusikan penyelesaian terhadap masalah itu, termasuk di dalam hal biaya maupun kefektifannya. Silahkan anda membaca- baca di
http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia/
http://www.perencanakeuangan.com/files/PerkiraanBiayaPendidikan.html
http://www.moe.gov.my/bpk/sp_hsp/moral/hsp_moral_f4.pdf
http://www.gaulislam.com/pendidikan-agama-kita
http://www.mpr.go.id/pimpinan2/?p=64
http://chaosregion.wordpress.com/2007/01/11/masalah-pendidikan-di-indonesia/
http://islamlib.com/id/artikel/pendidikan-agama-jangan-menakut-nakuti/
http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/jaman-sekarang.html
http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/pendidikan-moral-ala-jepang.html
http://www2.kompas.com/ver1/Dikbud/0707/30/202349.htm
Saya hanya tak habis pikir soal pendidikan yang dikaitkan dengan agama, namun implementasinya adalah bisnis.
Saya lihat sekarang ini menjamur dan semakin banyak, Sekolah Dasar Kristen….., Sekolah Menengah Atas Kristen…., Sekolah Islam……. , Sekolah Muslim….. Sekolah Budi (Budha)…dan banyak lainnya. Besar- besar dan megah. Sementara yang bersekolah di situ rata- rata mengengah ke atas, sehingga hampir setiap saat di pagi hari dan siang hari, jalan- jalan di depannya macet karena banyak kendaraan parkir untuk mengantarkan dan menjemput anak- anak yang bersekolah di situ.
Pernah suatu kali ketika saya menemani teman kantor untuk mendaftarkan sekolah anaknya, saya terhenyak dengan perkataan ,”Maaf, kalau bapak tidak mampu, mungkin boleh cari tempat lain yang sesuai.” Sekalipun ketika itu teman saya mengatakan bahwa dia membawa surat keterangan yang menyatakan tempatnya beribadah, namun jawabannya, ” Maaf, kami hanya boleh mempertimbangkan setelah mendapat persetujuan dari pihak yayasan. Nanti kalau anak bapak pinter, mungkin pihak yayasan akan mendiskusikannya”
Saya pikir memang ini cara ’fair’ bila suatu bisnis berlaku. Sama halnya seperti terhadap bisnis, konsumen berhak memilih terhadap apa yang dia mampu. Dan produsen boleh mengharapkan terhadap pasar mana yang mereka akan raih. Sama seperti pengertian segmentasi pasar terhadap produk yang diluncurkan ke pasar. Tapi, jika dilakukan oleh sebuah institusi pedidikan dengan afliasi agama, mungkin jawaban ini terlalu ’duniawi’. Walaupun tentunya, kenapa harus berkeinginan untuk bersekolah di tempat tersebut, padahal ada tempat lainnya, sehingga boleh dijadikan alasan untuk menghindarkan diri.
Saya pikir, kalau pintarpun, tak usah seakan- akan mengemis seperti itu di dalam meminta keringanan biaya pendidikan, karena pasti Pemerintah berikan.
Kenyataannya? Wow, saya baru tahu persyaratan- persyaratannya me-’lucu’-kan setelah teman itu mengatakannya sekilas: Meminta surat keterangan dari tempat bekerja tentang gaji dan penghasilan, surat keterangan tidak mampu dari RT, RW domisili dan kelurahan. Konyolnya, surat dari kelurahan perlu bayar pula, padahal untuk surat keterangan tidak mampu.
”Apa kaitannya antara permintaan keringanan atau bebas biaya pendidikan oleh sebab si anak pintar, dengan dibutuhkannya surat keterangan tidak mampu?’ tanya hati kecilku
Namun, saya tidak kompeten membahasnya. Biarlah pakar- pakar pendidikan, bisnis, dan administrasi publik yang mendiskusikan dan membuat solusinya. Termasuk juga dalam hal moral dari hasil pendidikan yang dibuat. Apalagi’ jika dikaitkan antara hasil didik dari pendidikan agama di sekolah terhadap kualitas moral siswa- siswa di kemudian hari ketika mereka menjadi anggota masyarakat dengan berbagai jenis pekerjaan yang mereka lakukan sebagai perjalanan hidup kemanusian mereka. (Silahkan lihat beberapa tulisan yang terdapat di link atas)
Saya hanya melihatnya terhadap euphoria sekolah- sekolah atas nama suatu afliasi agama ’berbisnis’ sebagaimana halnya sekarang- sekarang ini, ketika banyak individu- individu semakin ’gersang’ hatinya, untuk rindunya dicurahkan siraman- siraman pelepas dahaga kerohanian melalui janji- janji baik dan pengharapan, bahwa Tuhan Maha Pengampun begitu fantastis untuk membersihkan begitu saja dosa- dosa duniawi yang dibuat karena kecintaan manusia akan materialisme tanpa suatu komitmen untuk berubah, tidak melakukannya kembali.
Curahan rohani melalui keberadaan Tuhan menjadi sekedar pelipur lara yang setia. Eksistensinya menjadi ’glamour’, ketika prosesi- prosesi keagamaan yang dijelmakan menjadi gempita. Pengakuan terhadapNya menjadi sesuatu yang absolut terhadap perbedaan dogma, seabsolut pembenaran diri terhadap pihak lainnya yang berbeda. Terjual atas nama kerohanian dan keagamaan, bahkan untuk menghancurkan orang- orang yang berlainan kepercayaan.
Semua pilihan yang ada adalah menjajikan indahnya kucuran ’madu’ Tuhan. Tuhan seakan- akan boleh dibayar dengan pengakuan diri melalui seberapa besar anda tergiring untuk memasukkan dalam kantong- kantong persembahan atau kotak- kotak amal. Seberapa keras dan lantang teriakan memuji keagunganNya, bahkan ketika tangan anda menghunus senjata dan bermuka garang..atau bernyanyi memuji- muji Dia hingga ’trans’, tampak seakan- akan mabuk anggur dan mulut berbusa, karena suatu keyakinan bahwa Dia melihat anda sebagai seorang yang beriman kepadaNya. Termasuk juga, ketika anda berprerogatif diri untuk memasukkanNya dalam identitas dan legalitas ’bisnis’ anda.
Memuji Dia untuk memuaskan diri dan hati yang telah terjepit gundah, untuk lepas dan bebas. Angkat tangan, tunjukkan betapa kuasaNya Dia lewat incin- cincin bermata berlian dan gelang- gelang emas yang anda pakai. Datanglah bersemangat dengan senyum indah, ramah dengan pakaian- pakain mahal dan bermerk, serta mobil mewah anda untuk menunjukkan bahwa Dia Maha Kaya.
Menunjukkan kesungguhan penyesalan- penyesalan anda dengan linangan- linangan air mata bersama- sama, doa bersama- sama lewat podium orang ramai, televisi, radio, koran, pamflet- pamflet. Menunjukkan bahwa penyesalan anda adalah sungguh- sungguh dan mujarab untuk membujuk Dia agar memasukkan diri anda sebagai orang yang Tuhan kasihi melalui keberhasilan dan kesusksesan hidup.
Itulah pilihan yang tersedia. Pilihan yang dilakukan para penjual yang tersenyum ringah dengan kehadiran anda dan dengan semakin banyaknya undangan kehadiran mereka untuk berceramah dan berkhotbah.
”Penjual firman!”
Penjual itu tidak menawarkannya melalui penyesalan mendalam dengan menggiring anda merenung diri di dalam bilik pribadi anda masing- masing, untuk sungguh- sungguh bertobat dan berdoa agar terlepas dari belenggu materialisme yang selalu menyeret- nyeret langkah hidup anda, atau melalui kerendahan hati terhadap sesama. Tidak pula atas ajaranNya agar tangan kiri yang tidak perlu tahu apa kebaikan yang dilakukan tangan kanan. Agar tangan, mata, mulut, dan badan anda tidak tercemari keinginan- keinginan haram dan kedagingan anda. Agar hanya yang halal saja yang dapat ada buat di dalam hidup dan tindakan anda. Agar anda semakin dekat denganNya melalui kebersamaan hati anda dengan orang- orang lain yang berbeda, dan menjadi berkat dengan keberadaan anda di tengah- tengah orang lain. Agar anda bukan menjadi tembok penghalang kerohanian orang lain untuk bersungguh- sungguh terhadap Tuhan. Agar anda tidak menjadi bibit dosa terhadap orang lain.
Penjual itu hanya tahu, bahwa anda juga saya dan dia adalah sama- sama manusia pendosa terhadap Tuhan. Tapi dia tahu, bahwa anda menjadi lebih pendosa kepada Tuhan, yang untuk itu hak kepantasan penghapusan beban dosa anda secara psikologi adalah terhadap apa yang anda lakukan untuk Tuhan melalui dia, pembawa penghapus dahaga rohani anda.
Padahal yang memiliki hak absolut itu adalah pemilik Surga, Tuhan si Empunya yang berhak untuk memasukkan anda ke pintu itu.
Bagai penjual obat- obat mujarab pasar malam, dia menjualnya agar diri anda terpanggil untuk berita- berita sukacita, pengampunan. Berita- berita yang menjadi penyejuk hati yang bergelora dan gundah karena kekhilafan- kekhilafan kemanusian anda. Berita- berita yang sebenarnya anda dapat gali sendiri, namun anda mengabaikannya. Waktu- waktu anda tidak mau menyempatkan diri untuk lebih dekat dengan Dia. Dengan berbagai alasan. Sehingga anda hanya menglogikakan, cukuplah dengan hanya mendegar berita- berita tersebut anda pantas menjadi manusia yang beriman, dan melalui apa- apa kebaikan tangan kanan anda sebagai tobat, serta pujian- pujian terhadap keangungaNya sebagai manusia yang takwa.
Padahal ketika mulut memuji Dia, maka hati, segenap jiwa, dan seluruh ragapun seharusnya memuji Dia yang sesungguh- sungguhnya. Bukan memuji Dia, ketika tangan sadar dan sengaja untuk bersimbah haram, serta pikiran dan hati bersiasat dengan keiinginan daging, yang berarti adalah menghina Dia. Begitu juga ketika mengucap syukur, bukan menjadi heboh dengan kesuksesan dan kekayaan yang perlu dipamerkan, karena ucapan itu menjadi keangkuhan dan kesombongan.
Tuhan adalah Dia yang tidak mengek- rengek membutuhkan kebaikan dan iman anda untuk membuat anda pantas masuk dalam pintuNya. Diapun tidak merasa sepi, jika anda tidak masuk dalam pestaNya. JamuanNya tetap meriah dan menyenangkan. UndanganNya untuk semua, namun pintuNya hanya terbatas kepada yang menyambut undanganNya dengan sungguh- sungguh.
Bahkan ketika dikatakan, ”Banyak yang merasa terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih”, ternyata ini juga dilakukan oleh sekolah- sekolah dengan afliasi agama (untuk memasukkan nama agama) atas dasar ’bisnis’. Bukan seperti sesungguhnya, seperti apa yang Tuhan maksudkan kepada kita sebagai manusia.
Untuk yang demikian, mungkin yang pantas disebutkan adalah “Agama Uang”
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.